Cara Perawatan Conveyor Belt Industri Agar Awet & Hemat Biaya Produksi
22 Oct 2025
Banyak orang di pabrik nggak sadar, conveyor belt itu ibarat urat nadi di lini produksi. Kalau dia berhenti? Lumpuh semua. Sering kejadian, tim produksi teriak-teriak karena target nggak tercapai, padahal biang keroknya sepele: belt sobek, selip, atau mistracking.
Menurut data Kemenperin, downtime akibat kerusakan mekanik (termasuk conveyor) bisa memangkas produktivitas 5% sampai 15%. Angka yang besar kalau dihitung kerugian per jamnya.
Masalah yang kerap terjadi seringkali bukan di kualitas belt yang jelek. Masalah terbesarnya adalah cara perawatan conveyor belt yang masih reaktif nunggu rusak, baru diperbaiki. Padahal kalau bicara hemat biaya produksi, kuncinya ada di perawatan preventif yang sistematis. Ini bukan cuma soal “membersihkan” sisa material, tapi soal menjaga seluruh sistem supaya tetap harmonis dan stabil.
Kenapa Conveyor Belt Jadi Biang Kerok Downtime?
Di pabrik semen, tambang, atau bahkan food processing, conveyor adalah pekerja keras yang hampir nggak pernah istirahat. Nggak heran kalau komponen ini paling sering “minta jajan”.
Penyebab utama kerusakan conveyor belt biasanya:
- Abrasion (abrasi): karena material keras terus bergesekan di area transfer.
- Mistracking (belt lari jalur): akibat alignment idler atau pulley yang nggak presisi.
- Splice joint gagal: sambungan nggak kuat menahan gaya tarik.
- Impact di area loading: material jatuh terlalu tinggi atau berat.
Kasus di pabrik semen di Jawa Barat. Mereka ganti belt tiap enam bulan sekali di area transfer point. Setelah dicek, bukan karena material belt yang nggak tahan abrasi, tapi karena idler di bawah loading chute macet. Akibatnya, material semen yang abrasif numpuk di situ. Belt yang terus jalan digosok paksa oleh tumpukan keras itu. Dalam hitungan minggu, cover karetnya habis terkikis, ply-nya putus. Downtime berjam-jam, biaya ganti belt puluhan juta.
Itu baru satu contoh. Banyak manajer berpikir “hemat” dengan menunda perawatan, padahal yang terjadi justru mereka membakar uang lebih besar karena downtime tak terencana.
Empat Kesalahan Fatal di Lapangan yang Bikin Belt Cepat Rusak
Di lapangan, sering ditemuin kebiasaan atau setelan yang kelihatannya sepele tapi efeknya fatal buat umur belt. Ini empat yang paling sering ditemui:
1. Setelan Tension Asal-asalan
Ini penyakit paling umum. Banyak teknisi menyetel tension belt pakai “feeling”.
Kalau terlalu kencang, beban di bearing pulley dan idler jadi berat banget. Belt melar melebihi batas elastisitas, sambungan (splice joint) ikut ketarik sampai sobek. Kadang pulley bearing sampai panas dan rontok.
Sebaliknya, kalau terlalu kendor, belt bakal selip di drive pulley, terutama saat start atau beban penuh. Gesekan karena slip bikin panas ekstrem. Pernah terjadi pulley lagging (lapisan karetnya) sampai meleleh dan kebakar cuma gara-gara tension kendor.
2. Mengabaikan Alignment Idler dan Pulley
Ini penyebab klasik mistracking. Belt lari ke kanan-kiri, nggak mau jalan lurus. Begitu belt keluar jalur, tepi belt bakal bergesekan sama frame. Hasilnya? Tepi belt terkikis, robek, dan ply keluar.
Mengembalikan alignment itu nggak sekadar “geser-geser idler”. Perlu ketelitian, sabar, dan pengalaman buat dapet tracking yang benar.
3. Material Tumpah (Spillage) yang Dibiarkan
Material tumpah di area loading itu normal. Tapi kalau dibiarkan, ini bisa jadi bencana kecil. Material (batu bara, semen, pasir) bisa masuk ke sisi return, nempel di return idler atau tail pulley. Tumpukan material ini menekan belt dari bawah, bikin bentuknya nggak rata dan cover-nya cepat habis.
Sering terjadi belt baru yang rusak dalam tiga bulan cuma karena area bawahnya dibiarkan penuh material tumpah.
4. Kualitas Sambungan (Splice Joint) yang Buruk
Sambungan itu titik paling lemah di belt. Mau pakai mechanical fastener atau hot/cold splicing, kalau dikerjain terburu-buru, pasti umur pakainya pendek.
Kadang tim maintenance kejar target produksi, jadi proses pembersihan, pengolesan lem, atau pengaturan suhu vulkanisasi nggak sesuai standar ASTM D378. Celah sekecil apa pun di sambungan bisa kemasukan air atau debu halus, dan dari situ sambungan mulai terbuka pelan-pelan.
Perawatan Conveyor Belt ala Engineer Senior
Oke, jadi gimana cara yang benar? Kuncinya cuma dua: konsistensi dan inspeksi visual. Tim maintenance nggak perlu jadi pemadam kebakaran yang penting disiplin dan rutin.
Berikut checklist sederhana tapi ampuh yang biasa terapkan di pabrik:
🔹 Inspeksi Harian (oleh operator)
- Cek visual kondisi belt, idler, dan pulley.
- Pastikan nggak ada sobekan kecil atau material menumpuk.
- Dengar suara gesekan aneh dari bearing.
🔹 Inspeksi Mingguan (oleh tim maintenance)
- Ukur tension dengan tension gauge, bukan feeling.
- Cek alignment dan tracking belt.
- Bersihkan area loading dan return.
- Periksa pelumasan roller dan bearing.
🔹 Inspeksi Bulanan / Saat Shutdown
- Evaluasi kondisi sambungan (splice).
- Cek keausan lagging di drive pulley.
- Ganti idler yang macet atau bearing aus.
- Audit sistem keseluruhan (take-up, chute, scraper, dan struktur frame).
Kuncinya: catat semua kegiatan maintenance. Catatan itulah yang bikin sistem maintenance kita punya arah dan data, bukan sekadar feeling.
Insight Profesional: Masalahnya Sering Bukan di Belt
Belt yang cepat rusak itu biasanya cuma gejala, bukan penyakit utamanya. Penyakitnya bisa di desain chute yang salah, idler yang nggak sesuai beban, atau komponen kecil yang diabaikan.
Mengganti belt tanpa memperbaiki akar masalahnya cuma buang uang. Pola kerusakan bakal terulang dengan cara yang sama.
Pemilihan material belt juga penting. Kalau di area kamu banyak oli, jangan pakai belt standar EP/NN, tapi pilih Oil Resistant (OR). Kalau materialnya panas, wajib pakai Heat Resistant (HR).
Kalau mau tahu lebih detail soal jenis-jenis material belt, baca juga Panduan Jenis Material Belt Industri.
Di PT Dhimas Mitra Internasional, lewat brand King Protect Indonesia, kami nggak cuma jual rubber belt atau PVC belt. Kami mulai dari pertanyaan: “Material apa yang diangkut? Berapa suhunya? Ada oli atau bahan kimia?” Karena solusi engineering yang tepat di awal adalah bentuk penghematan biaya paling nyata.
Kesimpulan: Perawatan Bukan Biaya, Tapi Investasi
Merawat conveyor belt dengan benar bukan sekadar rutinitas itu investasi langsung untuk efisiensi produksi. Downtime satu jam aja kadang lebih mahal dari biaya inspeksi setahun penuh.
Jangan tunggu sampai belt sobek atau pulley macet. Buat jadwal inspeksi yang realistis, latih operator buat “melihat” dan “mendengar” tanda kerusakan sejak dini, dan pastikan material belt-mu sesuai kondisi operasional.
Kalau kamu lagi nyiapin maintenance shutdown atau butuh assessment teknis buat sistem conveyor, jangan ragu hubungi kami. Kami siap bantu review dan suplai material yang benar-benar “King” di kelasnya.
📞 Hubungi PT Dhimas Mitra Internasional (King Protect Indonesia)
WA: +62 821-3165-8840
Sumber Referensi
- Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin) – Laporan Produktivitas dan Efisiensi Industri Manufaktur 2024, Direktorat Jenderal ILMATE.
- ASTM D378-13 – Standard Test Methods for Rubber Conveyor Belting, ASTM International.
- ISO 284:2025 – Conveyor Belts — Electrical Conductivity — Specification and Test Method, International Organization for Standardization.
- CEMA (Conveyor Equipment Manufacturers Association) – Belt Conveyors for Bulk Materials, 7th Edition, 2020.
- Martin Engineering – Foundations™ for Conveyor Safety, 5th Edition, 2022.
- Fenner Dunlop Conveyor Handbook, Australia, 2023.
